Maulana Hasanuddin Putri Nyai Kawunganten

Salah satu tokoh yang berperan penting dalam babad alas lebak Sungsang atau sejarah desa Kedokan Bunder adalah Maulana Hasanuddin dijuluki dengan Pangeran Sabakingking. Pangeran Sabakingkin ikut berangkat bersama ibunya Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten dan saudarinya Ratu Winaon pada tahun 1497 M.

Maulana Hasanuddin Nyai Kawunganten
Lukisan Pangeran Sabakingking

Siapakah Pangeran Sabakingking itu? Pangeran Sabakingking atau lebih dikenal dengan Sultan Maulana Hasanuddin adalah putra dari Syarif Hidayatullah atau Gunung Jati, mempunyai ibu bernama Nyi Kawunganten. Maulana Hasanuddin lahir pada tahun 1478 M. Nama Sabakingking berasal dari pemberian kakeknya Sang Surosowan (raja Wahaten Pasisir yang kini menjadi daerah banten).

Silsilah Pangeran Sabakingking

1. Dari Jalur Ayah : Pangeran Sabakingking adalah anak dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), mempunyai kakek bernama Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam yang menikah dengan Nyi Mas Rara Santang putri dari Jayadewata atau Silihwangi (Raja Pakuan Pajajaran).

2. Dari Jalur Ibu : Pangeran Sabakingking mempunyai ibu bernama Nyai Kawunganten yang merupakan putri dari Raja Sang Surosowan (Raja Wahaten Pasisir), Surosowan merupakan anak dari Jayadewata atau Silihwangi (Raja Pakuan Pajajaran).

Dari jalur baik ayah maupun ibu keduanya bertemu pada Jayadewata atau Silihwangi yang merupakan eyang dari Pangeran Sabakingking.

Peran Maulana Hasanuddin dalam Membangun Desa Kedokan Bunder

Maulana Hasanuddin ikut serta bersama rombongan Nyi Mas Kawunganten dalam Babad Alas Lebak Sungsang. ini terjadi pada tahun 1497 M atau saat Maulana Hasanuddin berumur 19 tahun.

Sultan Maulana Hasanuddin juga ikut dalam memimpin pasukan bertugas menumbangkan pohon - pohon yang besar untuk dijadikan lahan penduduk di Pendopo Nyi Mas Kawunganten.

Namun Setelah pohon - pohon rata menjadi lahan, Sultan Maulana Hasanuddin balik lagi ke Cirebon (sekitar setelah 1 tahun menetap di Kedokan Bunder) dan selanjutnya menetap di Banten dan menjadi Sultan di sana.

Sejarah Pangeran Sabakingking Banten

Awalnya Sunan Gunung Jati mengajak putranya yakni Pangeran Sabangkingking dalam berdakwah islam dengan sopan, ramah serta suka membantu masyarakat di wilayah Wahaten, sehingga sebagian dari mereka secara sukarela memeluk serta taat kepada ajaran islam.

Kemudian kegiatan dakwah ini dilanjutkan oleh Pangeran Sabakingking hingga ke pedalaman Wahaten seperti gunung Pulosari di kabupaten Pandeglang di mana ia pernah tinggal selama sekitar 10 tahun untuk berdakwah kepada para ajar (pendeta), gunung Karang, gunung Lor, hingga ke Ujung Kulon dan pulau Panaitan.

Pada tahun 1526 M oleh ayahnya Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanuddin diangkat menjadi sultan di wilayah Wahaten yang kemudian diubah namanya menjadi Banten dengan status Provinsi dari Kesultanan Cirebon.

Pangeran Sabakingking menjadi Sultan di Banten selama 18 tahun dari tahun 1552 M – 1570 M dikarenakan wafat yang kemudian kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya Maulana Yusuf.

Riwayat Hidup Singkat Maulana Hasanudin Banten

  • Maulana Hasanuddin lahir pada 1478 M.
  • Di umur ke 19 tepatnya pada tahun 1497 M, Maulana Hasanuddin membantu ibunya membuka lahan Hunian di daerah Jawa Barat bagian utara Kedokan Bunder, Indramayu.
  • Pada tahun 1526 M, Maulana Hasanuddin di umur ke - 48 menjadi Sultan Banten.
  • Di tahun 1552 M tepatnya Pangeran Sabakingkin berumur 74, Banten resmi menjadi Kesultanan dan Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon.

Makam Pangeran Sabakingking

Pangeran Sabakingking dimakamkan di Masjid Agung Banten kecamatan Kasemen, Kota Serang Banten.

Makam Pangeran Sabakingking

Makam Pangeran Sabakingking



Terima kasih sudah membaca artikel mengenai Maulana Hasanuddin Putri Nyai Kawunganten, jika ada pertanyaan atau keluhan silahkan isi di kolom komentar.

Tidak ada komentar untuk "Maulana Hasanuddin Putri Nyai Kawunganten"